Selasa, 26 Oktober 2010

Polling Perdamaian Aremania-Viking oleh Bobotoh

Seminggu menjelang pertandingan delapan besar Piala Indonesia, antara Arema Indonesia dan Persib Bandung, saya chatting dengan salah satu teman via Facebook. Teman saya tersebut adalah seorang Bobotoh, yang kebetulan mengenal saya setelah membaca salah satu artikel yang dimuat oleh redaksi ongisnade.net yaitu “Pembuktian One Soul One Blue”.


Dia memberitahu saya salah satu grup di Fb yang berjudul “SMS-KABEHDULUR (share ti bobotoh ka bobotoh sa’alam dunya)”. Salah satu programnya adalah mengirim sms secara massal kepada anggota yang telah registrasi melalui ponsel. Sms yang dikirim berisi informasi mengenai Persib Bandung dan Bobotoh. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah adanya sebuah polling tentang tanggapan Bobotoh mengenai Aremania – Viking yang dilakukan sekitar akhir Juni 2010 melalui sms-centre tersebut.
Hasil Polling

Hasil polling merupakan gambaran bagaimana sikap Bobotoh dengan pertanyaan yang diajukan yaitu “Setujukah dulur-dulur (Bobotoh) Viking – Aremania berdamai?”. Polling tersebut murni diikuti oleh Bobotoh yang tersebar di Jawa Barat. Koresponden yang mengikuti polling hanya dapat mengirimkan jawaban satu kali saja, karena software akan menolak secara otomatis apabila koresponden mengirimkan hasil jawaban lebih dari satu kali. Polling ini bukan rekayasa atau polling fiktif.

Terlepas dari pro-kontra mengenai permasalahan ini, sepatutnya kita memberi apresiasi terhadap pergerakan rekan-rekan Viking yang mempunyai itikad baik untuk memperbaiki hubungan kedua supporter. Usaha seperti ini akan mubazir apabila tidak ada usaha terus-menerus dari kedua belah pihak untuk benar-benar memperbaiki hubungan seperti sedia kala. Dibutuhkan pendewasaan ekstra memang, bagaimana melupakan segala sakit hati atas peristiwa pahit yang telah terjadi.

Propaganda perdamaian seperti ini semata-mata ingin menepis anggapan khalayak ramai bahwa suporter itu anarkis. Tidak! Justru jauh lebih banyak suporter yang menjunjung tinggi perdamaian dan tidak setuju dengan kemelut, gesekan, dan permusuhan antar suporter. Suporter memang bukan individu berkepala sama, tidak mudah memang menyadarkan pihak-pihak yang tidak sportif mendukung sebagai suporter. Namun selama masih ada suporter cinta damai, rasanya bukan tidak mungkin optimisme terwujudnya sepakbola nasional yang kondusif bisa terwujud.

Semoga menjadi sarana introspeksi diri bagi semua yang mengaku ‘suporter sejati’. Suporter sejati, mendukung dengan hati, bukan menomorsatukan emosi.

Salam Satu Jiwa!!!

(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

Aremania, Simbol Persaudaraan Erat

Libur puasa dan lebaran tahun ini merupakan sebuah “Tour ‘de Ngalam” bagi ayas yang merantau di kota kembang, Bandung. Tulisan ini sengaja ayas buat sebagai salah satu dokumentasi yang semoga menjadi inspirasi bagi nawak-nawak. Sekaligus sebagai sebuah apresiasi ungkapan terima kasih kepada nawak-nawak Aremania yang membuat pulang kampung kali ini terasa begitu menyenangkan.


Bertemu Sam Yuli Sumpil
Minggu, 22 Agustus 2010, ayas dan beberapa nawak-nawak SMP yaitu: Edwin (Jakarta), Lilik (Surabaya), dan Fajar (Malang) berkesempatan mewujudkan rencana untuk bersilaturahmi ke rumah dirigen Aremania, Sam Yuli Sumpil.

Momen mudik kami pergunakan untuk mengenal lebih dekat sosok the conductor-nya kera-kera Ngalam. Untuk mencapai tujuan, kami harus putar-putar daerah Gang Sumpil, karena memang diantara kami tidak ada satu pun yang mengetahui rumahnya. Setelah bertanya kepada beberapa penduduk, akhirnya kami berhenti di sebuah rumah yang terletak di depan masjid Gang Sumpil I. Saat itu Sam Yuli sedang berdiri di depan rumahnya, mengenakan jaket Manchester United Merah, celana loreng, dan topi putih.
Dari kanan: Edwin, ayas, Sam Yuli, Fajar, dan Lilik

Seperti sudah kebiasaan, dengan ketenaran seorang Sam Yuli, pasti banyak Aremania yang mengunjungi rumahnya, Sam Yuli mempersilahkan kami memasuki rumahnya dengan melarang kami melepas alas kaki. “Ini rumah, bukan masjid!”, begitu alasannya.

Sebuah kenangan tersendiri bagi kami, bertemu sosok yang dielu-elukan oleh ribuan Aremania di stadion. Betapa tidak, dengan ketenaran seorang Sam Yuli, dapat dikatakan bahwa beliau adalah tokoh suporter yang tidak dapat diremehkan eksistensinya.

Pembicaraan pun kami awali dengan perkenalan dan penyampaian maksud kedatangan kami. Obrolan mengalir dengan dominasi Sam Yuli, mulai dari niatnya untuk pensiun dari jabatan dirigennya, tujuan hidup selanjutnya yang lebih serius, cerita kegagalannya menjadi TNI, pengalaman dramatis dalam mendukung Singo Edan, sampai kisah cintanya yang mempunyai mantan berjumlah 78, entah serius atau bercanda, kami hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.

Selain itu, cerita mengenai keterlibatannya dalam film Romeo Juliet dan The Conductor, foto dokumentasi kiprahnya sebagai dirigen yang terpampang di dinding, dan penghargaan atas keterlibatannya dalam beberapa film berupa piala membuat ayas dan ketiga nawak “melongo”.

Kami juga menyinggung hal-hal yang cukup sensitif mengenai suporter, mulai dari kemelut dengan suporter lain, tour maut, sampai nyanyian di lapangan yang kurang enak didengar, Sam Yuli menanggapi dengan santai hal tersebut.

Sam Yuli orang yang terbuka, mudah bercerita apa saja, dan tentu saja kharismatik, terbukti ketika ayas menjadi bagian dari suporter tribun bawah papan skor Stadion Kanjuruhan. Kunjungan kami sore itu ditutup dengan acara do’a untuk kesembuhan ayahanda Sam Yuli yang sedang terbaring sakit di rumahnya, serta tak lupa acara foto-foto. Sam Yuli rupanya sudah terbiasa dengan sesi terakhir kunjungan Aremania tersebut.

Penuh Kopi Darat

Alasan minat yang sama terhadap Arema, membuat ayas begitu cepat akrab dengan Aremania, yang berada di kota lain sekalipun dan belum pernah bertatap muka. Ya, melalui dunia maya, jejaring sosial membuat jarak serasa dekat. Dan pada kesempatan pulang kampung inilah, ayas manfaatkan untuk bertemu dengan sebanyak mungkin nawak-nawak tersebut.

14 Agustus 2010, bertemu nawak Satria Sangga, sudah 9 tahun kami tidak bertemu sejak perkenalan di acara Jambore Ranting Singosari, ketika kelas 6 SD. Silaturahmi tersambung kembali berkat artikel ayas yang dimuat di ongisnade.net atau tribunaremania.com ini. Kami ngabuburit di kawasan Soekarno-Hatta, sekaligus bertemu dengan nawak-nawak Aremanoise. Secara tidak sengaja, ayas bertemu dengan Sam Kepet, salah seorang dirigen Aremania.

Bersama Sam El Kepet

Kopi darat berikutnya, dengan salah satu Arema Senayan, Sam Keceng tanggal 5 September 2010, dilanjutkan menonton ujicoba Arema vs Persikubar di Gajayana, dan disitu pula ayas bertemu Sam BBM (Benci Bom Molotov), yang selanjutnya menjadi partner diskusi buku “Arema Never Die”. Menyusul kopdar secara spontan malam hari, tanggal 13 September 2010 dengan 5 aremania dan 3 aremanita, admin sebuah forum Aremania di Facebook.

Kopdar kali ini berlangsung di Stasiun Kota Baru, dan berlanjut ke sebuah warung di kawasan Pulosari Ngalam. Kami berbagi pengalaman sebagai Aremania, dan berdiskusi mengenai realisasi forum-forum dunia maya ke dunia nyata, mereka tertarik dengan cerita ayas mengenai Bobotoh, khususnya Viking. Sukses untuk forum Warkop Aremania kalian nawak!

Hari berikutnya, ayas, Sam Joe, dan Sam Ayib (Arema Parahyangan) putar-putar kota Ngalam, bersilaturahmi ke rumah Cak Wergul (Arema Cikarang), dan kebetulan bertemu Sam Kepet pula serta nawak-nawak Arema Cikarang yang mudik, Sam Rahman, Sam Soleh, Sam Dwi Ambon, dll. Dilanjutkan hunting oleh-oleh atribut pesanan beberapa Bobotoh, dan tak lupa mengunjungi Ongisnade Store. Sayang, rencana bertemu redaktur Ongisnade.net tidak terlaksana, karena sedang tidak berada di tempat.

Dari kanan : Sam Ayib, Sam Joe, dan saya

Besoknya, kopdar dengan Sam Ludba Qilam (Arema Karawang), sore hari kopdar dengan Sam Paul Wahyu (Aremaut – Malang Utara, Lawang) yang selama ini sering berkomunikasi mengenai kemelut antar suporter. Dari Sam Wahyu, ayas pun mendapat 8 keping CD berisi rekaman tour Aremania sejak tahun 2000, bahkan ada rekaman yang dibuat sekitar tahun 1990, ketika ayas baru lahir.

Beberapa rencana kopdar gagal dilakukan karena satu dan lain hal, diantaranya dengan nawak Aremania Garasi dan Sam Ined Aremania Kediri yang berencana berkolaborasi dengan Arema Parahyangan dalam menyampaikan ekspresi sebagai Aremania perantauan.

Nawak-nawak yang kopdar dengan ayas pertama kali, sebelumnya ayas kenal melalui dunia maya, dan ketika bertatap muka secara langsung, rasanya kami telah saling mengenal sebelumnya, mudah akrab. Tak lupa ayas ucapkan terima kasih untuk Maskhul Daboribo, Ovic Alfian, Fajar Ardiansyah, yang menemani ayas menonton Arema baik di Kanjuruhan pada laga IIC kontra PSM dan Persiwa, dan ujicoba melawan Metro FC, dan adik ayas Dentha, yang menemani nonton pada ujicoba Arema vs Persija di Kanjuruhan, 18 September 2010, gol Noh Alam Shah dan Esteban sore itu menjadi klimaks Tour ‘d Ngalam tahun ini.

Guyuran hujan di sektor 1 tribun ekonomi, menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi seorang Aremanita.
Walapun tidak berada di kota kelahiran, ayas merasa menjadi begitu dekat dengan Aremania, baik Aremania yang menetap di Bhumi Arema, maupun di perantauan. Jauh di mata, dekat di hati.

Ya, Aremania adalah sebuah simbol solidaritas, kebersamaan, persaudaraan dalam satu jiwa mendukung Arema Indonesia. Identitas sebagai Aremania/nita mampu mendekatkan jarak, mengatasi perbedaan, menyatukan generasi, lebih dari sekadar suporter yang mendukung tim kebanggan semata. Persaudaraan ini tak hanya terasa ketika Aremania melakukan tour tandang saja, dalam keseharian pun terbukti bahwa jati diri sebagai Aremania mampu mengakrabkan individu-individu yang bahkan tak saling mengenal.

Semangat untuk Sam Anggih Septian Nugroho yang berniat mendirikan korwil Aremania Satria Purwokerto. Ayas pun mengajak Sam Boim untuk bersama menjadikan Arema Parahyangan sebagai keluarga besar di perantauan, Bandung.

Senasib sepenanggungan
Walau tidak di kandang Singo Edan
Selalu ingin menjadi suporter terdepan
Kami Aremania Perantauan…
Ayas nantikan seduluran dari yang lain…
Salam Satu Jiwa! 


(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

Aremanita Dukung Timnas di Siliwangi

Kegagalan mendukung Timnas saat melawan Uruguay di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta pada 8 Oktober 2010, semakin membulatkan tekat ayas untuk tidak melewatkan mendukung Pasukan Garuda secara langsung pada laga berikutnya, Indonesia vs Maladewa.
Tribun Timur Stadion Siliwangi

Selasa, 12 Oktober 2010 pukul 12.30 ayas sudah sampai di Stadion Siliwangi Bandung. Suasana masih cukup sepi untuk pertandingan skala besar. Di luar area stadion terdapat beberapa pedagang yang menjual atribut Indonesia, Bobotoh, dan Bonek. Berdasarkan pengalaman di Kanjuruhan atau Gajayana, biasanya beberapa jam sebelum kick off suporter sudah membludak di area stadion. Ini merupakan kali pertama ayas menjadi suporter di homebase-nya Persib. Apakah karena ini bukan laga Maung Bandung, sehingga Bobotoh kurang begitu antusias datang ke Siliwangi, atau ayas yang datang terlalu pagi?

Ayas yang berencana membeli tiket di loket terpaksa gigit jari, karena ketika ayas datang pintu loket sudah ditutup. Terpaksa ayas membeli tiket pada seorang bapak-bapak yang membawa segepok tiket berbagai tribun. Harga resmi panpel adalah; VIP Rp 60.000,00 – Samping Rp 25.000,00 – Timur Rp 20.000,00 – Utara/Selatan Rp 15.000,00. Tiket yang dijual calo selisih Rp 5.000,00 dari harga resmi. Masalah percaloan tiket rupanya terjadi dimana-mana.

Sekitar satu setengah jam, ayas luntang-lantung sendiri, sebelum salah satu nawak Arema datang. Kemudian ayas kopdar dengan salah satu anak Viking yang kenal via dunia maya. Selanjutnya kami bertiga berjalan menuju pintu masuk tribun timur.

Di dekat antrean suporter, terdapat segerombolan anak berusia sekitar delapan tahunan, kepada kami mereka berkata “’A, Teh, bade ngiring.” (“’A, Teh, mau ikut”). Mereka rupanya tidak memiliki tiket. Hal itulah yang membuat ayas terkesan sekaligus trenyuh. Mereka yang tak lain adalah Bobotoh leutik (kecil), begitu polos, mencintai sepakbola, entah rumahnya dimana, datang ke stadion tanpa pengawasan orang dewasa, begitu antusias mendukung Timnas walau tanpa atribut, dan punya usaha untuk bisa masuk stadion. Kepada mereka ayas berbisik “Saya Aremanita lho!”, sambil menunjukkan logo Arema di lengan kanan dan benda-benda yang menempel di tas ayas. Mereka cukup terperangah dan tersenyum. Kemudian kami menggandeng lengan mereka, dan berhasil memasukkan mereka ke dalam stadion, selanjutnya berpisah di tribun timur bawah papan skor. Suporter kecil itu lebih memilih berada di depan, sedangkan kami memilih posisi di belakang yang lebih ke atas.

Bersama Benny Wahyudi
Tanpa bermaksud memprovokasi atau apapun, ayas hanya menceritakan pengalaman saja. Merupakan sebuah ujian mental bagi seorang Aremania/nita di Siliwangi sore itu. Namun, ayas dan nawak ayas secara perlahan terbiasa dan menerima situasi tersebut. Terwujud juga keinginan ayas menjadi Aremania di antara Bobotoh sore itu, dengan mendukung Timnas tentu, menjadi bagian dari suporter Indonesia!

Stadion Siliwangi hanya diisi kurang dari setengah kapasitas stadion. Seperti pada laga Timnas sebelumnya yang juga tidak sepadat pertandingan klub lokal. Apakah ini merupakan tanda nasionalisme mendukung Timnas dikalahkan oleh fanatisme dalam mendukung klub? Ataukah salah satu wujud kekecawaan suporter terhadap prestasi sepakbola tanah air yang nol besar?

Tentu ukuran nasionalisme seseorang tidak dapat diukur dari datang atau tidaknya ke stadion ketika Timnas. Suporter Indonesia dari berbagai klub pun tentu mengharapkan kemenangan Skuad Merah Putih setiap bertanding, dengan keyakinan total atau hanya sekadar pasrah. Seandainya seluruh potensi dapat diberdayakan, termasuk dari elemen suporter, bukanlah suatu hal yang mustahil untuk mendongkrak prestasi sepakbola kita yang mati suri ini. Salah satunya menggratiskan saja tiket pertandingan, atau kalaupun tidak gratis, menekan harga tiket seminimal mungkin untuk menarik minat suporter. Ironis, seandainya pihak panpel mencari keuntungan dari tiket pertandingan Timnas. Untuk apa? Seandainya laga Timnas diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan, akankah suporter memenuhi kapasitas stadion? Kita buktikan suatu saat nanti.
Ah, suporter memang tak berhak bersuara, kalaupun bersuara itu pun tak akan ditanggapi oleh para petinggi organisasi sepakbola negeri ini.

Bersama Ahmad Bustomi
Setengah permainan, unggul satu angka membuat kami optimis dengan pertandingan sore itu. Sayang, tidak ada yang berjualan sate nol dua favorit ayas di Kanjuruhan! Adanya malah krupuk warna oranye, yang punya julukan tersendiri. Sekali lagi tanpa bermaksud memprovokasi lho… Ayas menceritakan kenyataan.
Kemudian salah seorang kenalan datang menghampiri, kebetulan dia adalah anak Viking, pendiri Bonek Bandung, suka dengan Arema! Lagi-lagi kopdar dengan suporter di stadion. Kami berempat menyaksikan sisa pertandingan dengan tertawa terbahak-bahak. Pasalnya ada segorombolan ABG yang menyanyikan yel-yel dengan gaya kocak, walaupun kalimatnya mengarah ke rasisme, namun kami menanggapi dengan santai. Apalagi tanpa tahu malu, salah seorang dari mereka mengambil alih singasana Kang Ayi Beutik yang sore itu memang kosong, dengan gaya asal-asalan ABG tersebut membuat gerakan ala dirigen. Hingga kami melewatkan gol yang dicetak pemain Arema, Yongki Ari bowo.

Diperlukan pendewasaan dalam menyikapi setiap apa yang terjadi di stadion. Dan yang paling ayas sesalkan sore itu adalah nyanyian rasis yang datangnya justru dari suporter-suporter kecil yang ayas yakin itu adalah karena mencontoh suporter yang usianya jauh di atas mereka. Apakah hujatan untuk suporter lain pantas dinyanyikan saat mendukung Timnas? Ini Timnas, bukan klub! Selain itu apakah wajar apabila suara-suara negatif ditujukan untuk pemain, yang saat itu membela Merah Putih. Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang sudah lumrah dan wajar saja dalam sepakbola tanah air? Apakah tidak ada jalur penyampaian aspirasi yang lain? Tentu pertanyaan ayas tersebut tidak ditujukan pada satu kelompok suporter saja. Melainkan semua yang merasa menjadi suporter Indonesia, termasuk Aremania sendiri.

Skor akhir 3 – 0 membuat kami senang. Sambil meninggalkan tribun timur ayas berdoa, semoga suatu saat Aremania dapat datang ke Stadion Siliwangi, mengenakan atribut, mendukung Arema berlaga melawan Persib tentunya!

Untuk Aremania di Kanjuruhan yang selalu ayas rindukan…
Salam Satu Jiwa!

Dibalik Bertemu Ketua Viking, Halal Bihalal, dan Bertemu Pemain Timnas

Kamis, 7 Oktober 2010 sebuah informasi ayas terima melalui pesan singkat, mengabarkan bahwa pada sore itu Ketua Viking Persib Club, Pak Heru Joko datang berkunjung ke rumah salah satu pengurus Arema Parahyangan yaitu Sam Heri di kawasan Caringin. Mendapat kabar itu, tanpa pikir panjang ayas berangkat menuju Caringin, karena tidak ingin melewatkan kesempatan bertemu dengan salah satu tokoh di Bandung tersebut. Di tengah guyuran hujan dan beceknya Pasar Induk Caringin ayas bergegas tidak sabar mengikuti obrolan yang akan berlangsung.




Bertemu Ketua Viking Persib Club

Ayas sampai tujuan pukul 17.15, setengah jam setelah rombongan Pak Heru datang. Rupanya Pak Heru tidak sendirian, ada Kang Andi Aventurier, Kang Bonie Maung, dan Bu Reni (yang kebetulan adalah guru TK anaknya Sam Heri). Sebelumnya, memang terjalin komunikasi antara Sam Untung (Humas Arema Parahyangan – ArPar) dengan Pak Heru, namun baru ada kesempatan bersilaturahmi dan ngobrol santai di minggu pertama bulan Oktober ini. Beberapa pengurus ArPar pun juga turut hadir, yaitu Sam Navi dan Sam Agung Hercules. Banyak hal yang dibicarakan, tentang suporter menjadi topik dominan.
Dari kanan : Ayas, Pak Herru, Sam Agung, dan Sam Navi



Pihak ArPar menjelaskan sejarah komunitas Arema Parahyangan, siapa saja tokoh dari golongan tua yang mendorong dan mendukung terbentuknya forum persaudaraan yang lebih solid dari sebelumnya. Selain itu tujuan didirikannya ArPar juga dijelaskan secara gamblang. Sebagai pendatang, kami memang merasa perlu untuk “nuwun sewu” kepada warga pribumi dalam melakukan kegiatan, untuk menghindari kesalahpahaman yang tidak diinginkan. Terlebih lagi dengan situasi dan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini terkait masalah suporter, kami merasa perlu berdialog dengan tokoh-tokoh Bobotoh, salah satunya Pak Heru.

Secara nyata Pak Heru mendukung Arema Parahyangan sebagai forum persaudaraan dan komunikasi Gnaro Ngalam di Bandung, terutama dengan tujuan yang mengarah pada hal-hal bersifat sosial. Bagaimanapun juga, kami adalah bagian dari Kota Bandung, tanpa melupakan tempat asal kami, Malang, kami pun merasa punya andil dalam menciptakan suasana Bandung menjadi lebih baik.

Bersama nawak Arema Parahyangan, Arema Cikarang, dan Arema Bogor



Cerita pun mengalir apa adanya, bagaimana sejarah tercipta satu-hatinya Viking dan Bonek, dibalik warna jersey Persib musim ini yang salah satunya berwarna hijau (kuning dan hijau adalah warna Sunda), sampai ke semboyan “kabeh dulur” dan “make manah” yang sering ayas dengar dari Bobotoh. Tak hanya tentang sepak bola dan suporter, pembicaraan pun menyentuh aspek-aspek sosial budaya, terutama yang ada di Tatar Sunda.
Pro kontra antar suporter, apabila dibicarakan dengan sifat kekeluargaan, maka akan timbul sebuah sikap tenggang rasa dan saling menghormati. Jauh dari kata hinaan, hujatan, cacian, makian, dan segala sumpah serapah yang tidak selayaknya dilontarkan. Begitu indahnya perbedaan yang terjadi malam itu, suasana guyub dan menyenangkan. Apakah karena yang berdiskusi adalah para orang-orang dewasa yang pola pikirnya dewasa pula, sehingga tidak ada rasa sok bahwa kelompoknya yang paling benar? Apakah seandainya yang duduk bersama adalah para suporter yang lebih muda usianya, yang dinamis dan bergejolak, akankah kejadian yang sama dapat ditemui?
Rupanya memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa pertemuan di hari itu berlangsung cukup lama, karena sejak sore hujan turun, tidak terlalu deras namun cukup membuat kuyup, sehingga Pak Heru cs pun enggan pulang. Hujan baru reda sekitar pukul 20.30. Mereka kemudian pamit pulang, tak lupa kami memberikan undangan untuk menghadiri Halal Bihalal Arema Parahyangan yang akan dilangsungkan 3 hari berikutnya.
Halal Bihalal
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, hari Minggu, 10 Oktober Arema Parahyangan punya hajat yaitu halal bihalal. Kami sangat beruntung dapat bekerjasama dengan salah satu perusahaan asuransi, sehingga panitia pun tidak terlalu repot menyiapkan acara. Lokasi bertempat di Ballroom Hotel Serela Jl. R. E. Martadinata No. 59 Bandung, dimulai pukul 12.00 WIB.
Kami mengundang nawak-nawak Arema Cikarang, sebagai wujud balasan, karena ArPar telah diundang dalam silaturahmi Forum Persaudaraan Arema Jabodetabek di Cikarang, 8 Agustus 2010 lalu. Acara awal diisi oleh pihak sponsor yang memberikan presentasi. Dilanjutkan dengan acara sambutan-sambutan dari sesepuh ArPar Sam Anto Baret dan rekan-rekan pun turut hadir dalam acara tersebut. Sepatah dua patah kata yang beliau sampaikan turut memompa semangat kami yang berada jauh dari tempat kelahiran. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah, makan bersama, hiburan, foto-foto, penyampaian visi misi Arema Parahyangan, dan perkenalan pengurus.
Dari kanan : Sam Arif, Sam Dhedhet, Sam Anto Baret, ayas, Mbak Emil



Acara yang dihadiri sekitar dua ratus lebih anggota dari berbagai kalangan dan usia sukses digelar. Acara ditutup dengan membubuhkan tanda tangan di backdrop Arema Parahyangan yang terpasang di belakang ruangan. Setelah resmi ditutup, diilanjutkan dengan diadakannya forum diskusi dengan Sam Anto Baret. Pembicaraan pun mengarah ke komunitas Arema Parahyangan, adanya tawaran dari pihak-pihak yang bersedia menjadi konsorsium ArPar, sehingga kedepannya menjadi lebih dari sekitar forum persaudaraan semata, dan tentu topik tentang Arema dan Aremania menjadi hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja.
Ayas kebetulan mendapat kesempatan untuk menanyakan pendapat seorang Sam Anto Baret, tokoh Arema di Jakarta tersebut, tentang nyanyian-nyanyian suporter yang kurang baik didengar. Apakah nyanyian tersebut menjadi hal yang lumrah dan dapat dianggap sebagai hal yang wajar saja, tanpa perlu repot-repot kita mempermasalahkannya? Menurut Sam Anto, hal tersebut tidak sepatutnya dianggap wajar, karena dapat meracuni mental, terutama anak-anak kecil, serta merusak budaya bangsa tentunya. Kita patut waspada bahwa hal-hal seperti itu mungkin saja dikondisikan oleh beberapa pihak yang memang sengaja memanfaatkan situasi. Tanpa menuduh siapapun, bisa saja hal itu benar. Wallahu’alam.
Sayang, rekan-rekan asli Bandung yang kami undang (Bobotoh), tidak dapat menghadiri acara tersebut, dikarenakan ada acara dengan jadwal bersamaan, selain itu lalu lintas Kota Bandung yang macet total hari itu karena ada acara empat tahunan, Pasar Seni ITB yang menyedot minat warga untuk menghadirinya membuat mobilitas menjadi cukup terganggu. Namun, mereka sudah melakukan konfirmasi dan mendukung acara tersebut.

Bertemu Pemain Timnas
Ketika acara halal bihalal hampir berakhir, Sam Ihwan memberi informasi mengenai keberadaan pemain Arema yang tergabung dalam Timnas sedang berada di Bandung dalam rangka persiapan melawan Timnas Maladewa dua hari berikutnya. Kontan hal tersebut membuat ayas dan beberapa nawak langsung membuat rencana mendadak dan tanpa koordinasi jelas untuk menemui mereka. Sekitar 16 anggota Arema Parahyangan yang rata-rata berusia muda bersama-sama naik motor menuju Stadion Siliwangi, karena informasi yang didapat kurang akurat, kami pun mendapati Stadion Siliwangi kosong sore itu. Perjalanan dilanjutkan menuju Hotel Savoy Homman di sekitar Jl. Asia Afrika. Salah seorang Aremania berhasil menghubungi salah seorang pemaint Arema yang membela Timnas, Beny Santoso, rupanya mereka sedang shopping di sebuah mall, Paris Van Java. Sembari menunggu, kami shalat Maghrib di Musholla hotel dan ada yang membeli spidol, persiapan untuk meminta tanda tangan.

Setelah shalat, rupanya Benny Santoso dan Ahmad Bustomi telah sampai hotel, bersama pemain Persema mereka meladeni dengan sabar sesi foto-foto dengan Aremania perantuan. Kemudian mereka pamit menuju kamar, karena persiapan acara makan malam bersama. Saat menunggu di lobi hotel, bergabung pula dua aremania yang lain, serta salah seorang Bobotoh. Acara menunggu pun kami pergunakan untuk ngobrol. Untung saja pihak hotel tidak berkeberatan dengan kegaduhan yang kami buat.

Pukul 19.00 pemain turun dari kamar, dan makan di restoran yang terletak di lobi hotel. Dari balik kaca kami memperhatikan pemain Timnas. Apabila dibandingkan dengan ketika punggawa Singo Edan bermalam di Hotel Galeria Topas (Juli silam, saat akan bertanding melawan Persib pada 8 besar Piala Indonesia), terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Dulu, anak asuh Robert Albert ketika itu turun ke restoran dengan kondisi meja telah disiapkan, sehingga tanpa banyak membuang waktu langsung santap malam. Hal semacam itu tidak kami temui pada hari Minggu itu. Entah karena persiapan yang dilakukan oleh pihak hotel atau karena faktor lain, sehingga terkesan kurang sigap.

Ketika pemain satu per satu meninggalkan restoran, kami pun beraksi dengan bersalaman, meminta tanda tangan, berfoto, dan memberi dukungan moral secara langsung. Pemain Arema ada Benny Wahyudi, Ahmad Bustomi, dan Yongki Aribowo, tiga pemain lain yaitu Kurnia Meiga, Zulkifli Syukur, dipulangkan karena cedera, sedangkan Irfan Raditya dipulangkan karena alasan kelebihan berat badan.

Tak hanya pemain Arema pun yang kami dukung, kami pun tak segan mendukung, berfoto, meminta tanda tangan Bambang Pamungkas dan Firman Utina (Persija); Nova Ariyanto, Markus Haris Maulana, dan Hariono (Persib); Boaz Salossa (Persipura), Yesaya Desnam (Persiwa); Octovius Maniani, Tony Sucipto (SFC), Jaya Teguh Angga (Persema); dan Afa, salah seorang pemain naturalisasi, yang sempat mengeja “Salam Satu Jiwa” pada kaos yang dikenakan beberapa Aremania. Kami pun dengan antusias menjelaskan kepadanya siapa kami dan sedikit cerita tentang Arema. Lucu, melihat bule yang tidak fasih mengeja kata “Malang” tersebut. Walaupun mereka dari klub lain, ketika berfoto kami tetap dengan atribut Arema… Ya, kamilah Aremania suporter Arema, bagian dari suporter Indonesia. Bukti bahwa kecintaan terhadap Arema tidak mengendurkan semangat dukungan kepada pemain dari klub lain ketika membela Timnas, demi nasionalisme.

Sebuah pekan yang tak akan terlupakan bagi kami, Arema Parahyangan dan Aremania…
Salam Satu Jiwa!

Cerita Aremanita di Siliwangi Nonton Persib Bersama Bobotoh

Tiket Tribun Selatan
Menjadi sebuah obsesi tersendiri bagi saya, yang bukan Bobotoh, untuk merasakan atmosfer menonton pertandingan di Stadion Siliwangi secara langsung. Ya, saya bukan Bobotoh. Saya Aremanita, suporter wanita pendukung Arema, yang lahir dan besar di Malang. Memasuki tahun ketiga tinggal di Kandang Maung Bandung, membuat saya semakin ingin mewujudkan keinginan tersebut.

Rupanya kesempatan itu baru berpihak kepada saya ketika laga Timnas vs Maladewa pada hari Selasa, 12 Oktober 2010. Saya, bersama salah seorang Aremania (Arema Parahyangan), dan salah seorang teman Viking (Roni Taufiq Firdaus) menonton pertandingan persahabatan sore itu di Tribun Timur. Suasana kurang meriah karena bukan Persib yang main, begitu kata teman yang tinggal di kawasan Dago tersebut. Keinginan untuk membuktikan perkataannya pun terlintas begitu saja di kepala saya. Apalagi dorongan dari Kang Harie, salah satu pendiri Bonek Bandung yang turut mengobarkan keinginan itu.

Berlalu beberapa hari, keinginan saya itu hampir terkubur karena situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan. Sampai akhirnya salah seorang teman di jejaring sosial Facebook, Erwin Hijisalapantilutilu mengirim pesan singkat berisi “Besok nonton moal?”, dari pesan singkat itu keinginan tersebut muncul kembali.

Sebelumnya saya ragu, namun akhirnya saya dapat membulatkan tekat untuk turut membirukan Siliwangi. Ragu, karena memikirkan bagaimana cara pulang dari stadion yang pastinya malam hari, dan tidak ada rekan Aremania satu pun yang menemani saya. Apakah saya terlalu bernyali? Tidak, yang saya pikirkan hanya bagaimana bisa sampai ke Stadion Siliwangi, kopi darat dengan beberapa rekan Bobotoh. Selebihnya saya tidak punya pikiran negatif apapun.

Ketika saya akan naik angkot dari daerah Cibabat Cimahi, dari dalam Bus Damri ada yang mengibarkan bendera Viking sambil berteriak-teriak ke arah saya. Tanpa pikir panjang, saya pun naik ke Damri tersebut, karena saya yakin bahwa suporter mempunyai solidaritas yang tidak diragukan kepada rekan sesama suporter. Ternyata mereka adalah teman-teman di Facebook, yaitu Kang Ndoko Nirwarno dan Kang Chepot Thea, Viking Jabodetabek. Inilah hebatnya punya pemikiran yang positif, sebuah kebetulan yang memang sudah direncanakan Yang Maha Kuasa. Satu bagian telah terlewati.

Sesampainya di Stadion Siliwangi, kami berjalan kaki menuju Fanshop Viking Jl. Banda No. 9, tempat yang saya kunjungi seminggu sebelumnya. Di sana, saya bertemu Kang Andre Hooligan Utara dan Pak Ari Cicaheum, kebetulan saya sudah mengenal mereka sejak 17 Juli 2010 lalu. Sambil berteduh dari guyuran hujan, saya benar-benar menikmati suasana di sekitar Jl. Banda. Sedikit aneh juga, dengan jati diri saya yang seorang Aremanita, satu-satunya yang mengenakan kaos berlogo Arema di lengan kanan dan punggung, saya bisa berada di antara mereka. Sambil memperhatikan Bobotoh yang berlalu-lalang, seakan mengobati kerinduan terhadap suasana serupa di tempat asal saya, Malang. Dan yang paling mengesankan adalah adanya beberapa Bobotoh yang usianya mungkin beberapa tahun lebih tua daripada ibu saya. Saya selalu mengagumi golongan suporter ini.
Bersama Kang Andre Dirigen Hooligan Utara

Sepakbola telah menjadi sebuah fanatisme tersendiri bagi sebagian orang yang menyebut dirinya suporter. Melihat Bobotoh berusia belasan yang tak hilang raut semangatnya di atas angkutan umum yang mereka sewa, walaupun badannya kuyup oleh hujan, membuat saya sadar bahwa seperti itulah suporter yang sangat mencintai klub, Bobotoh yang mencintai Persib, mewujudkan keyakinan membela apa yang dicintainya secara nyata, salah satunya dengan mendukung langsung di stadion. Sama seperti Aremania yang mencintai Arema, berada di antara pendukung Maung Bandung, tak membuat saya lupa akan jati diri.

Kopdar selanjutnya dengan Kang Erwin bersama teman-teman Viking Purwakarta. Kami sepakat menonton di Tribun Selatan. Butuh perjuangan untuk mencapai pintu masuk. Saya harus tergencet kerumunan suporter dan merasakan sesaknya menghirup udara untuk bernafas. Kaki terinjak-injak dan harus berdesak-desakan pula. Saya tak menyalahkan suporter yang ingin segera masuk dan mendapatkan posisi nyaman di dalam stadion, sehingga terjadi dorong-dorongan, apalagi kami telah membeli tiket. Dan saya pun tak menyalahkan kinerja panpel, hanya polisi yang bertugas di pintu Tribun Selatan masuk kriteria sangar bagi saya, apalagi dengan memajang seekor anjing di dekat antrean suporter. Seram euy! Apakah hal itu membuat saya kapok untuk mengulanginya? Tidak! Saya anggap sebagai sebuah perjuangan untuk memperoleh suatu tujuan. Semoga kedepannya semua pihak dapat lebih baik dalam mengatur ketertiban suporter sebelum memasuki stadion.

Menit awal pertandingan, gerimis pun mulai mengguyur. Saya terpaksa berdiri karena padatnya Tribun Selatan, melihat atraksi suporter yang bernyanyi dan menari, lagi-lagi saya ingat Stadion Kanjuruhan. Suporter, adalah roh bagi klub, benar-benar sebuah suntikan semangat yang luar biasa untuk tim yang sedang bertanding. Komentar suporter di sekitar saya pun tak pernah berhenti terdengar, entah untuk pemain, kepemimpinan wasit yang dianggap kurang fair (terutama untuk tim favoritnya), suporter yang membuat ricuh, semua terdengar kocak bagi saya. Keriuhan suporter menurut saya sama saja, bedanya kalau di Malang menggunakan Bahasa Jawa, di Bandung menggunakan Bahasa Sunda.

Gol pertama yang diciptakan Pablo Frances pada menit ke-13 membuat seolah-olah Stadion Siliwangi berguncang. Pun demikian ketika gol Atep pada akhir babak pertama, lagi-lagi bergemuruh seluruh stadion. Skor sementara 2-1 membuat Bobotoh optimis bahwa laga malam itu adalah milik mereka.

Jeda pertandingan, saya bisa duduk juga akhirnya. Biasanya, saya paling suka jajan sate 02 (julukan sate bekicot atau siput) yang banyak dijajakan di Kanjuruhan. Berhubung di Siliwangi tidak ada, saya cukup puas dengan jajan tahu Sumedang dan kerupuk berwarna oranye yang punya julukan tersendiri (hehehe). Dan berbagi air mineral untuk melepas dahaga pun menjadi sebuah perwujudan solidaritas antar suporter.

Gol-gol selanjutnya, saya memilih untuk merunduk, mengalah untuk Bobotoh di sekeliling saya yang meluapkan kegembiraannya. Karena suasana benar-benar padat, daripada saya terinjak ketika turut berjingkrak-jingkrak, tak apalah saya hanya diam saja, menunduk melindungi kepala J. Tapi saya turut merasakan kebahagaiaan Bobotoh malam itu, mungkin dengan alasan yang berbeda. Ya, saya yang Aremanita, bisa mendapat teman-teman, bahkan saya tanpa segan menganggap mereka dulur-dulur yang menerima perbedaan saya yang sebenarnya bukan bagian dari mereka.

Saya suka dengan stiker “Tong rasis, ulah anarkis. Dukung Persib make manah”. Hal itu lebih saya apresiasi daripada atribut anti suporter lain. Sedikit ada rasa perih, melihat beberapa atribut yang anti klub kebanggaan saya dan kelompok suporter saya. Tapi saya paham, itulah bagian dari dinamisasi suporter, wujud ekspresi, walaupun saya tak pernah setuju dengan hal yang semacam itu, termasuk yang datangya dari Aremania sendiri.

Setelah gol keempat, saya memutuskan untuk meninggalkan stadion, menghindari arus suporter yang keluar stadion secara bersamaan. Saya berpisah dengan rekan-rekan Viking Purwakarta. Untungnya, ketika akan pulang, saya bertemu dengan Kang Aan Hidayat, salah satu Bobotoh yang tinggal di Padalarang, beliau menawari tumpangan. Lumayan, daripada saya naik angkot sendiri. Membelah jalanan Kota Bandung di saat hujan bersama konvoian Bobotoh yang merayakan kemenangan menjadi sebuah klimaks eksistensi saya sebagai suporter malam itu. Mohon maaf, tidak dapat memenuhi ajakan rekan Viking Bekasi yang mempersilahkan saya mampir ke Fanshop Viking setelah pertandingan usai, mungkin kalau ada waktu saya main ke sana lagi.

Sepakbola, tak sekadar klub atau kelompok suporter semata. Lebih dari itu, ada nilai-nilai yang tak dapat diukur dengan rupiah sekalipun, harga sebuah persaudaraan! Saya hadir di Stadion Siliwangi, menonton laga Persib, menikmati sepakbola lokal, menjadi bagian dari publik bola Bandung, bahkan Jawa Barat, serta menjadi bagian dari suporter Indonesia yang mendukung Timnas. Walaupun biru saya bukan biru Maung Bandung, tapi biru Singo Edan.

Sesampainya di kost, tidak saya sia-siakan kesempatan untuk mengabadikan memori tentang pengalaman berkesan yang saya alami sebagai Aremanita yang nonton Persib di Siliwangi di antara Bobotoh dalam bentuk tulisan. Semoga menginspirasi…

Selamat untuk Bobotoh dengan kemenangan telak Persib 5-1 atas tamunya Persiba, kado istimewa di Hari Jadi Ibu Kota Jawa Barat, Bandung yang ke-200 tahun. Semoga di lain kesempatan, akan ada cerita-cerita seru Aremania dan Bobotoh dimanapun, tak hanya di Siliwangi maupun Si Jalak Harupat, semoga keadaan semakin baik kedepannya. Anda mengerti maksud saya bukan?

Salam damai suporter Indonesia…

(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

Minggu, 27 Juni 2010

Sebuah Ironi Aremania Parahyangan

Ayas masih ingat kali pertama bertemu dengan komunitas Aremania yang ada di Bandung, tanggal 16 Mei 2010 di tempat futsal Soccer Cop Kiaracondong Bandung. Itupun setelah berselancar di dunia maya, melalui jejaring sosial Facebook dimana status ayas beberapa kali menanyakan keberadaan basis supporter Singo Edan di Bandung. Sam Deddy ‘Singa Urban’ lah yang peduli dengan pertanyaan ayas tersebut dan memberi informasi jadwal pertemuan Aremania di Bandung dengan acara futsalnya.



Dengan sedikit kenekatan dan keyakinan, ayas berangkat sendiri mencari tempat futsal tersebut. Rupanya tidak mudah, ayas ketinggalan KRD (kereta yang melayani jalur Padalarang-Cicalengka), beberapa kali bertanya kepada orang di jalan, sampai naik turun angkot secara tidak jelas. Akhirnya ayas menemukan beberapa nawak-nawak beratribut Aremania dan Singo Edan sedang nongkrong di pinggir jalan. Tanpa canggung ayas bergabung dengan mereka (walaupun pada waktu itu ayas adalah AREMANITA satu-satunya), dan sambutannya luar biasa positif.



Begitulah awal perkenalan ayas dengan mereka. Selain futsal, kami juga nonton pertandingan terakhir AREMA INDONESIA ISL musim ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Kami juga nonton bareng pertandingan AREMA INDONESIA vs All Stars, dengan pelengkap nakam oskab gratis (sumbangan Aremania juragan oskab di Bandung). Selain itu, tanggal 12 Juni 2010 kami berkumpul dengan Paguyuban Arema, komunitas orang-orang Malang yang tinggal di Bandung. Begitulah, cara kami berusaha eksis di Kota Bandung dan sekitarnya.

Walaupun baru sebulan, tapi ayas sudah menganggap mereka layaknya keluarga sendiri. Perasaan senasib berada di perantauan membuat kami gampang akrab, apalagi sesama Aremania, berasal dari daerah yang sama. Ketika menonton pertandingan AREMA INDONESIA vs PERSIJA di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, 30 Mei 2010, kami kompak mengenakan soak warna biru bergambar kepala singa dan Gedung Sate, serta bertuliskan AREMANIA PARAHYANGAN. Ya, menjadi sebuah cita-cita kami bersama untuk membentuk korwil secara teroganisir, dengan acara-acara yang bermanfaat, sebagai wujud keseriusan komunitas kami.

Namun, kenyataan tak seindah harapan. Jalan untuk merealisasikan hal tersebut tersandung oleh beberapa hal. Salah satunya adalah kota dimana basis kami berada sekarang adalah kota yang juga mempunyai supporter sepak bola yang tak kalah fanatik terhadap tim kebanggaannya, Persib Bandung, mereka adalah Bobotoh Persib atau Viking. Masalahnya, akhir-akhir ini hubungan Aremania dan Viking kurang kondusif. Entah karena provokasi dari pihak mana atau masalah apa, sehingga yang pada mulanya hubungan antara kedua supporter ini baik-baik saja, sekarang menjadi agak panas!

Kami memang mendapat restu dari sesepuh-sesepuh orang Malang yang ada di Bandung untuk membuat kepengurusan Aremania Parahyangan, tapi diharapkan keberadaan kami sekarang tidak terlalu dimunculkan ke permukaan. Ironis! Di satu sisi, tujuan kami ingin mendirikan Aremania Parahyangan adalah untuk menunjukkan eksistensi kami di sini, tapi di sisi lain diharapkan tidak terlalu mencolok (di Bandung) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang, menjadi Aremania di Bandung (akhir-akhir ini) tidak seperti menjadi Aremania di Malang yang bebas mengenakan atribut kapanpun dan dimanapun tanpa khawatir. Berdasarkan pengalaman, beberapa kali ayas harus siap menebalkan telinga ketika mengenakan atribut AREMANIA di tempat umum, minimal menerima tatapan dari beberapa pasang mata yang aneh melihat ayas mengenakan soak Aremania atau memasang pin AREMA di tas. Dibutuhkan sebuah nyali untuk berani tampil di hadapan publik yang notabene pendukung setia Maung Bandung. Memang, tidak semua orang antipati terhadap Aremania, beberapa teman ayas (Bobotoh Persib) justru terang-terangan mendukung AREMA INDONESIA untuk kompetisi di kancah internasional dengan menyarankan pemain-pemain mana saja yang harus direkrut musim depan. Jadi tidak dapat disimpulkan bahwa semua Bobotoh Persib anti Aremania.

Masih segar dalam ingatan ayas bagaimana merasa begitu tegang saat bus rombongan Aremania Parahyangan yang menuju Jakarta nyaris dilempari batu di jalan tol oleh sekelompok pemuda. Dan suasana mencekam sepanjang perjalanan ngalup, tidak ingin bus kami menjadi sama nasibnya seperti rombongan lain yang kaca bus-nya pecah akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab. Ternyata perjalanan Aremania kala itu adalah sebuah perjalanan yang mengandung ahayab dan menantang maut. Terbersit rasa sedih (ayas sempat menangis), marah, kecewa, dan pemberontakan dalam diri ayas, entah untuk siapa… Tapi hal itu semakin menguatkan jiwa ayas, tak lagi sekadar supporter fanatik, namun Aremania sudah menjadi spirit dan jati diri… Sebuah perjuangan tak kenal lelah, pantang menyerah, penuh loyalitas tanpa patas, dan bukti bahwa AREMA tidak kemana-mana, tapi dimana-mana!

Sampai sekarang ayas masih kadit itreng, sebab musabab apa yang menyebabkan Viking dan AREMANIA menjadi kurang kondusif. Ayas sama kadit itreng-nya, mengapa Aremania dan Bonek menjadi sangat berbenturan? Apakah karena Viking bersatu hati dengan Bonek lalu secara otomatis Viking menjadi bersebarangan dengan Aremania? Apakah Aremania merasa senasib dengan The Jak, lalu sekarang menyaingi duet Bonek-Viking?

Sampai kapan kita berkutat dengan hal-hal seperti itu, sehingga membuat semangat sepak bola menjadi terabaikan, yaitu sportivitas. Bukan saatnya kerusuhan antar supporter menjadi deadline surat-surat kabar dan berita-berita internet, sedangkan prestasi sepak bola nasional kita tidak beranjak naik dari papan bawah! Waktunya mencari solusi, bukan kambing hitam dan saling menyalahkan satu sama lain.

Cinta terhadap tim memang perlu, tapi jangan cinta buta! Kita harus punya mata untuk melihat, melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada manfaatnya membalas ejekan, cemoohan, dan lemparan dengan cara yang sama. Tidak akan ada akhirnya apabila permusuhan terus dikumandangkan. Menunjukkan cinta bukan dengan seperti itu, kawan! Berdamai bukan solusi konyol kok! Justru sangat logis. Berdamai bukanlah kalah! Memaafkan tidaklah merendahkan harga diri! Kita tunjukkan bahwa kita adalah supporter yang layak menjadi teladan. No rasis, tidak hanya menjadi slogan semata, mari kita buktikan!

Ataukah justru kita biarkan saja segala benturan-benturan antar supporter ini menjadi sebuah tradisi klasik yang ada sejak jaman dulu sampai entah kapan, sebagai sebuah warna tersendiri dalam meramaikan kancah sepak bola di negeri kita? Agar terkesan ‘nyeni’ dan tidak monoton! Meniru pendukung Inter Milan dan Barcelona di Italia. Oh, betapa tidak punya otak dan hati (maaf) kalau ada yang menyetujui hal ini!!!

Dengan menulis seperti ini, jangan diartikan ayas tidak loyal terhadap tim, jangan dimaknai ayas bukan Aremania sejati. Sebuah loyalitas supporter ditunjukkan dengan seberapa besar mendukung tim kebanggaanya untuk berprestasi lebih baik di kancah sepak bola nasional, bahkan internasional. Supporter sejati mampu menjaga nama baik dan kredibilitas supporter dan tim yang didukungnya. Menjadi supporter brutal dan rusuh justru itulah yang mencoreng semangat sepak bola itu sendiri, selain itu membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan keberadaan supporter.

Bukannya ayas lupa dengan Aremania yang menjadi korban saat kerusuhan antar supporter atau Aremania yang menjadi korban kecelakaan saat mendukung Singo Edan bertanding (mari berdoa untuk Sam Hari Sutiyono). Kadit, ayas kadit lupa dengan perjuangan nawak-nawak hebat tersebut! Tapi selayaknya pengorbanan mereka kita hargai dengan tidak ada lagi nyawa-nyawa melayang dengan sia-sia. Sampai kapan kita menjadi supporter pasif, tanpa aksi mendiamkan hal-hal yang sebenarnya tidak kita terima secara nurani terjadi. Ayas yakin supporter yang membaca artikel ini adalah supporter yang berpendidikan dan bermoral, tentunya tidak ingin segala bentuk benturan dengan supporter lain merusak kerja keras yang telah ini kita bangun bersama selama, menjadi supporter terbaik. Sebarkan virus perdamaian!

Ayas juga yakin, supporter-supporter anarkis tersebut adalah oknum, yang bukan supporter sejati. Tentunya jauh lebih banyak yang masih memiliki nurani dan cinta kasih terhadap sesama. Kalau kita mau bersatu, saling mengingatkan satu sama lain, saling menghargai, menghormati, dan punya toleransi tinggi terhadap tim apapun yang didukung, tentunya perdamaian antara AREMANIA – Bonek, maupun Viking – The Jak bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh usaha maksimal dan doa untuk mewujudkannya, tapi ini suatu hal yang realistis!

Beberapa perwakilan AREMANIA PARAHYANGAN menawarkan diri untuk melakukan mediasi dengan ‘Panglima’ Viking dalam waktu dekat. Pendekatan seperti ini diperlukan, mengingat keinginan kami untuk eksis di Bandung dengan aman, tanpa takut mendapat serangan dari pihak yang kurang senang dengan keberadaan kami. Semoga kebebasan berkespresi kami tidak terkungkung lagi. Bagaimanapun juga di kota ini kami mendapat kesempatan mencari sedikit ilmu dan sesuap nasi, disinilah kami mendapatkan rejeki, paling tidak kami harus menghargai lingkungan kami. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Namun, kami ingin tetap menunjukkan jati diri kami sebagai bagian tak terpisahkan dari Ngalam, AREMANIA, AREMA, dan INDONESIA …

Ayas sampaikan terima kasih kepada redaksi ongisnade.net yang bersedia memuat curhat dan artikel-artikel ayas. Seperti inilah cara seorang AREMANITA berusaha menunjukkan eksistensi AREMANIA PARAHYANGAN kepada nawak-nawak di seluruh Indonesia. Kami akan tetap berjuang, apapun yang terjadi jiwa dan semangat AREMANIA akan bersemayam dalam benak kami, sampai nanti, sampai mati. Mohon dukungan dan saran-saran dari nawak-nawak (fb marlitha_giofenni@yahoo.co.id). Nuwus…

SALAM SATU JIWA. AREMANIA, never ending supporter forever after!

Suara Aremanita di Tanah Sunda

Ayas adalah salah satu Aremanita, yang lahir dan besar di Malang (tepatnya Singosari) selama 18 tahun. Tapi 2 tahun yang lalu ayas ‘terpaksa’ hijrah ke sebuah kota kecil di sebelah Kota Bandung, yaitu Kota Cimahi, di mana ayas mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi secara gratis (beasiswa) atas sponsor dari sebuah perusahaan susu terkenal di Bandung.

Ayas baru berani menyebut diri ayas sebagai Aremanita justru ketika ayas berada di kota yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari markas Arema, bukan berarti ayas dulunya tidak suka Arema. Sejak kecil ayas suka menonton pertandingan Arema yang ditayangkan di televisi dan selalu senang melihat konvoi Aremania di jalan raya setelah pertandingan usai. Orang tua tidak mengijinkan ayas untuk menonton di stadion, alasannya adalah ayas perempuan, masih licek, dan tidak ada yang menemani. Dalam pikiran ayas waktu itu adalah “Oke Pak, Bu’, untuk sekarang mungkin masih belum saatnya, tapi suatu saat ayas harus nonton langsung di stadion!”.

Dan angan itu terwujud! Sehari menjelang ayas balik ke Cimahi setelah mudik, tepatnya tanggal 30 September 2009, adik laki-laki (15 tahun) ayas yang rupanya waktu itu mulai menggandrungi Arema, tiba-tiba mengajak ayas menonton pertandingan dalam rangka launching team Arema untuk ISL musim 2009/2010. Dengan sedikit kenekatan, ayas dan adik berangkat, berboncengan naik sepeda motor Bapak menuju Stadion Kanjuruhan. Tanpa sepengetahuan orang tua, karena kalau bilang dulu pasti dilarang.

Perjalanan 1 jam dari hamur ayas di daerah Singosari menuju Kanjuruhan ayas lalui dengan hati riang, untung saja ayas sudah punya atribut Arema jadi ayas semakin percaya diri bergabung untuk pertama kali dengan simpatisan Arema. Sampai di Stadion ayas tak henti-henti bersyukur bisa melewatkan momen yang sudah ayas tunggu sejak lama, berada di antara ribuan Aremania, menonton pemain Arema bertanding, mendengar riuh rendah suara yel-yel penyemangat yang membahana memenuhi seluruh stadion.

Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Pengalaman pertama bertemu dengan Aremania di jalan raya yang berbondong-bondong menuju satu tujuan yang sama, Stadion Kanjuruhan. Pengalaman pertama memakai atribut Arema. Pengalaman pertama membeli tiket lewat calo (untuk yang satu ini tidak patut dibanggakan, karena waktu itu ayas dan adik belum tahu dimana membeli tiket resmi , apalagi berangkatnya mendadak). Pengalaman pertama memasuki Stadion Kanjuruhan. Pengalaman pertama melewati petugas penyobek karcis di Stadion. Pengalaman pertama duduk di tribun ekonomi. Pengalaman pertama mendengar dengungan yel-yel dukungan terhadap Arema secara langsung. Pengalaman pertama menonton langsung pertandingan Arema, walaupun bukan big match. Pengalaman pertama jajan di Stadion. Pengalaman pertama duduk di antara Aremania sejati. Semuanya serba pengalaman pertama bagi ayas. Dan ayas tidak berhenti mengagumi semua, memandang berkeliling. Impian ayas selama ini jadi kenyataan, walaupun pada akhirnya ayas harus dimarahi Bapak juga! Mungkin terdengar terlalu didramatisir atau hiperbolis, tapi begitulah yang ayas rasakan.


15 Mei 2010 Saat mendukung tim futsal Inersia FC (Mekatronik ’08). Diantara mereka ada Viking, The Jak, dan Bonek.

Menjadi Aremanita di negeri para Bobotoh Persib dan Viking menjadi sebuah tantangan bagi ayas. Tapi ayas tidak gentar sedikitpun, bahkan bisa dibilang semakin edan saja. Kamar kost ayas dihiasi dengan bendera dan syal Arema yang terpasang di dinding kamar, di jendela terdapat stiker logo Arema dan stiker bertuliskan Arema Singo Edan. Kemana-mana ayas pakai pin Arema dan ada gantungan boneka singa di tas. Pada hari dimana Arema bertanding, ayas memakai kemeja yang bertuliskan ‘AremaNITA INDONESIA’ di punggung, atau jaket ‘Arema INDONESIA’. Beberapa teman berfikir saya edan, mencari gara-gara, mengundang bahaya, tapi ayas hanya tertawa, tidak menghiraukan.

Beberapa kali ayas sempat hampir menangis, menahan kejengkelan ketika adu argumen dengan salah satu teman ayas ketika dia menuding tim Singo Edan diatur memenangkan ISL musim ini. Ayas juga pernah mendapat olok-olok ‘Arema j*nc*k’ dari seseorang di jalan karena dia melihat ayas memakai atribut Arema, tapi yang membuat ayas terharu adalah teman ayas yang lain (pendukung setia Persib) berniat menghajar orang tersebut karena menghina ayas. Satu lagi, tetangga kamar ayas berasal dari Surabaya, dia adalah fans Persebaya, tapi kami akur-akur saja dan cukup menghormati satu sama lain, bahkan beberapa kali saya menonton pertandingan Arema di kamarnya. Jadi terkadang kebrutalan supporter adalah ulah dari beberapa oknum saja yang tidak menjunjung tinggi sportivitas.

Yang saya herankan adalah beberapa orang yang menghina Arema, justru mereka hafal dengan yel-yel yang biasa dinyanyikan oleh Aremania ketika mendukung Arema. Mungkin sebenarnya mereka kagum dengan Arema dan Aremania, namun gengsi mengakuinya karena mereka adalah Viking.

Dengan kecanggihan teknologi, rasa rindu ayas yang besar terhadap suasana Malang yang ramai ketika pertandingan Arema berlangsung menjadi sedikit terobati. Setiap online ayas tidak pernah lupa membaca artikel-artikel di ongisnade.net, Tribun Aremania telah membuat ayas merasa tidak sendiri di perantauan, jauh dari sanak keluarga dan kota kelahiran. Sungguh menginspirasi dan menambah motivasi, apalagi komentar-komentar dari Aremania yang selalu membuat merinding. Ayas semakin bangga dan mantap menjadi Aremanita, bagian yang tidak terpisahkan dari Arema Indonesia, pemain kedua belas yang selalu mendukung Arema Indonesia sepenuh hati segenap raga seluruh jiwa! Saya bangga kepada Anda semua, Aremania-Aremanita dimanapun berada. Arema tidak kemana-mana tapi dimana-mana. Sebuah loyalitas tanpa batas!

Gebrakan yang didengungkan Aremania yaitu no racism dan no gap gender semoga menjadi pelopor terciptanya iklim sepak bola yang kondusif, ramah, dan berprestasi. Dengan banyaknya Aremanita yang sekarang berani datang ke stadion menonton langsung pertandingan Arema, ayas harap bisa disikapi dengan baik oleh Aremania. Mohon bisa menjaga saudari-saudarinya yang juga fanatik terhadap Arema, tidak melakukan hal-hal yang mengarah pada pelecehan baik secara verbal (ucapan) maupun fisik (sentuhan). Bagi Aremanita, ayas berharap bisa menempatkan diri dengan baik pada saat menonton pertandingan, misalnya dengan berpakaian yang tidak mengundang tindakan pelecehan (tidak ketat), dan tidak datang sendirian (datang berkelompok), sehingga meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


Sebelum pertandingan derby Malang

Karena situs jejaring sosial Facebook, alhamdulillah ayas sekarang telah bergabung dengan Aremania Bandung. Kami berusaha merapatkan barisan, membangun komunitas layaknya nawak-nawak di kota lain; Aremania Batavia, Aremania Dewata, Aremania Borneo, dan masih banyak lagi. Semoga dapat membentuk ikatan yang erat dan berkembang menjadi besar.

Siapalah ayas, hanya seorang Aremanita kemarin sore yang mempunyai impian sejak kecil menonton pertandingan Arema di stadion. Ayas bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan dedengkot-dedengkot Aremania yang sudah puluhan tahun ‘mengabdi’ menjadi pendukung fanatik Singo Edan. Apalah bentuk perjuangan ayas, kalau bukan tetap membawa identitas sebagai Aremanita dimanapun ayas berada, dan menunjukkan keberanian sebagai Kera Ngalam yang berkarakter layaknya singa. Kapan lagi ayas menunjukkan eksistensi dan keberadaan diri kalau bukan dimulai saat ini. Siapa lagi yang mendengar suara hati ayas kalau tidak ayas ungkapkan disini, kepada nawak-nawak Arema-AremaNITA sejati di penjuru tanah air dan belahan dunia.

Kita telah menjelma menjadi komunitas yang tangguh, berwibawa, dan besar. Mampu melewati batas jarak dan waktu, di pelosok kampung, di setiap sudut kota, menyeberangi selat dan laut, melewati batas teritori negara, bahkan benua. Komunitas lintas generasi yang tidak mengenal perbedaan gender, suku, agama, ras, profesi, dan partai politik. Menjadi kebanggaan bagi siapa saja, yang pernah lahir, besar, atau tinggal di Malang, bahkan orang-orang yang tidak mengetahui letak Malang pada peta sekalipun! Sebuah kalimat yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, memasuki setiap relung dada, mengalir bersama darah, tertancap di dalam memori sepanjang masa, dengan bangga mengucap SALAM SATU JIWA!!!

Mari kita berdoa sejenak…
Semoga perjuangan kita dalam mendukung tim kesayangan dimudahkan oleh Allah SWT…
Keikhlasan nawak-nawak mengeluarkan berlembar-lembar rupiah demi membeli bensin, membeli tiket kereta api, membeli tiket bus, membeli tiket pesawat, membeli tiket pertandingan, membeli atribut sebagai wujud dukungan kepada Singo Edan semoga dicatat sebagai amalan yang baik…
Menempuh jarak berkilo-kilo meter (bagai seorang musafir) untuk menonton langsung, atau duduk dihadapan layar kaca dengan meninggalkan sejenak aktivitas rutin semoga mendapat limpahan rahmat dari Sang Khalik…
Berdiri di tribun, menggerakkan seluruh anggota badan mengikuti panduan sang dirigen, bernyanyi dan berteriak lantang mendengungkan yel-yel penyemangat, membahana di setiap sudut stadion, semoga mendapat imbalan pahala…
Tak peduli tersengat matahari terik atau kuyup oleh air hujan, semoga bisa menjadi penghapus dosa…
Membentuk korwil, menyandang embel-embel Arema, Aremania, Aremanita di akun facebook, bergabung dalam berbagai forum di dunia maya, semoga menjadi ajang persaudaraan dan silaturahmi untuk memperpanjang umur…
Menahan perlakuan buruk dan hinaan dari pihak-pihak yang hanya sekadar iri, semoga menjadi pengingat bahwa apa yang kita dapatkan sekarang masih patut diperjuangkan sampai nanti…
Dengan bangga mengenakan atribut Arema, berkata “saya Aremania” kepada semua orang, semoga mendapat ridho Yang Maha Kuasa…
Dan kelak bersama-sama kita tetap menyanyikan yel-yel Arema di surga!
Amin ya robbal alamin…

AKU BANGGA MENJADI AREK MALANG!
SALAM SATU JIWA…
LOVE U Arema INDONESIA
LOVE U BRO & SIST, Aremania-AremaNITA
DIMANAPUN BERADA KAMI SELALU ADA KARENA KAMI Aremania

Jumat, 25 Juni 2010

Aremanita, Tunjukkan Aksimu!

Sepak bola merupakan olahraga paling populer di planet Bumi, sangat diminati oleh berbagai kalangan. Mudah menemukan anak-anak bermain sepak bola di sore hari, pertandingan tarkam pada momen peringatan 17 Agustus-an, atau even sepak bola yang diadakan oleh instansi tertentu. Selain itu banyak negara-negara yang menjadikan sepak bola sebagai acara tahunan, yang sering di sebut liga. Dan di tahun ini even World Cup di Afrika Selatan menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu oleh penikmat dan pencinta sepak bola di seluruh belahan dunia.

Di Indonesia tak mau ketinggalan, sejak 1994 dimulai dengan Ligina dimana PSSI (sebagai organisasi sepak bola nasional) mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional, kemudian dengan mengalami berbagai perubahan format pertandingan, hingga sekarang (tahun kedua) ISL telah sukses digelar, merupakan bukti semakin majunya sepak bola tanah air.

Hampir setiap daerah memiliki klub sepak bola kebanggaan yang berlaga pada level tertentu (sesuai dengan prestasi dan anggaran yang dimiliki). Menurut artikel Cak Faris, omong kosong apabila sebuah klub sepak bola mampu bertahan tanpa dukungan suporter yang ada dibelakangnya. Kita tentu mengangguk setuju dengan pernyataan tersebut. Arema Indonesia yang sukses merengguk kemenangan pada ISL musim 2009/2010 ini, salah satu faktornya tentu tidak lepas karena totalitas dukungan Aremania, suporter fanatiknya. Hal ini semakin dibuktikan bahwa Arema Indonesia yang notebene adalah klub non-APBD mampu bertengger pada singasana teratas level sepak bola tertinggi di tanah air, mampu mengatasi krisis anggaran yang sempat melanda salah satunya karena keikhlasan Aremania yang rela membayar mahal tiket pertandingan di Stadion Kanjuruhan (termahal di Indonesia).

Isu emansipasi wanita yang gencar dikampanyekan pada jaman globalisasi ini, juga berdampak pada sepak bola. Sepak bola tidak lagi menjadi monopoli laki-laki. Tidak sedikit kaum Hawa yang juga suka, bahkan fanatik terhadap sepak bola. Sekarang sudah menjadi hal lumrah bagi perempuan untuk turut berdiskusi dan pergi ke stadion untuk menonton pertandingan klub favoritnya secara langsung. Menurut Laporan Studi Lapangan yang dilakukan John Psilopatis, dengan semakin dewasanya suporter sepak bola (yang didominasi laki-laki), membuat semakin mudahnya menemukan suporter perempuan yang berani hadir di stadion.


Aremanita, The Jack Angle, Bonita, dan Srikandi adalah bukti pengakuan terhadap keberadaan suporter perempuan. Kehadiran Aremanita (julukan bagi suporter perempuan Aremania) menjadi sebuah warna tersendiri. Aremanita turut menghapuskan persepsi miring masyarakat yang konservatif, yaitu menganggap bahwa perempuan yang gemar sepak bola adalah perempuan yang ‘nakal’ dan sekadar ikut-ikutan. Stereotip negatif tersebut, seharusnya dibuang jauh-jauh. Mendukung Arema adalah hak siapa saja, tak terkecuali bagi perempuan sekalipun.

Selayaknya kemunculan suporter perempuan dalam sepak bola turut didukung oleh suporter laki-laki. Banyak kisah suporter perempuan yang mendapat tindakan tidak menyenangkan dan mengarah pada tindak pelecehan. Hal ini patut disesalkan, karena tindakan yang tidak terupuji tersebut turut menghambat proses terciptanya sepak bola yang kondusif, maju, dan dewasa.

Aremanita adalah bagian dari Aremania, yang mempunyai visi untuk mendukung Singo Edan. Sudah saatnya bagi Aremanita untuk menunjukkan aksinya yang lebih nyata, sebagai barometer suporter perempuan pada kancah sepak bola tanah air. Rencana memecahkan rekor Muri jumlah penonton perempuan terbanyak pada pertandingan derby Malang (Persema vs Arema Indonesia) tanggal 9 Maret 2010 lalu, sepatutnya dapat dilaksanakan suatu saat kelak, dengan persiapan yang matang oleh Panpel Pertandingan, serta kontribusi nyata dari Aremanita hal tersebut adalah realistis!

Alangkah baiknya apabila Aremanita-lah pihak yang mengingatkan Aremania apabila timbul indikasi untuk brutal dan kisruh, Aremanita-lah yang mampu membuat ‘adem’ suasana (dalam konteks positif) yang mulai memanas kala terjadi singgungan dengan suporter lain. Karena pada dasarnya jiwa perempuan lebih peka daripada laki-laki (kodratnya yang diciptakan sebagai ibu), sehingga lebih halus dan antipati terhadap segala bentuk anarkis.

Aremanita hadir di stadion tujuan utamanya adalah mendukung Singo Edan (walaupun tidak dipungkiri ada alasan untuk merefreshkan mata dengan melihat punggawa-punggawa Arema Indonesia yang nayamul cakep, namun julukan Aremanita tersebut sebaiknya tidak hanya disandang pada saat Arema Indonesia bertanding saja, lebih dari itu alangkah membanggakan apabila Aremanita juga turut mengangkat nama klub dan suporter dengan beragam kreativitas yang dimiliki. Contohnya dengan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan… atau dengan sekadar menulis artikel seperti ini.

Ayo Aremanita, tunjukkan aksimu!
Catatan Aremanita (Aremania Parahyangan), yang jiwa Aremania-nya semakin menggebu justru ketika berada di perantauan

---pernah dimuat di www.tribunaremania.com---